REPORTASE: Sintang Be Wild! 5 Mei 2012 @Gedung Indoor Apang Semangai

by Rizka Bobo

4,5 may 2012 Pontianak Menuju Sintang

Selalu ada hal-hal yang seru, lucu, sedih dan menyenangkan di setiap tour, yang selalu menjadi kenangan tak terlupakan bagi siapa saja yang terlibat didalamnya. Termasuk saya. Dan berbagi juga menjadi bagian hal yang sangat menyenangkan, untuk itu di artikel ini saya akan bagi beberapa pengalaman seru yang kami alami pasca tour Pontianak-Sintang dalam rangkan involved di sebuah gig yang diadakan oleh teman-teman kolektif DIY di Kota Sintang, Sintang Be Wild.

Awal perjalanan kami berkumpul di SPBU Jalan Imam Bonjol Pontianak dan unpredictable sekitar 50an orang teman dari berbagai scene dan band ikut berpartisipasi dalam tour ini. Boleh dibilang, ini adalah kali pertama Pontianak kids bergabung dalam satu tour, dalam massa yang sangat ramai. (“:

8 mobil sudah berkumpul, siap meniti jauhnya perjalanan Pontianak menuju Sintang yang katanya memerlukan waktu sekitar 7 hingga 8 jam, plus jalanan berliku, naik dan turun gunung dan aroma angin malam yang menyejukkan. Mobil berjalan bak konvoi yang panjang, dan berhubung hari sudah semakin malam, Ulud Tahanan 252 yang pada saat itu jadi supir di mobil yang saya tumpangi memilih untuk mengemudi dengan santai. Dengan alasan keamanan. Meski beberapa mobil yang dikemudikan teman-teman di depan tampak mengubah jalanan raya menjadi sirkuit racing tempat kebut-kebutan, huffftt.. Ais additional player nya Fight For Free emang terkenal tebak-tebak! Hehe. Di dalam mobil, saya lebih memilih untuk menikmati dan memantau situasi, memperhatikan jalanan yang ramai oleh truck-truck besar sambil menertawai babi-babi kecil yang berjalan-jalan di tepi jalan, babi-babi kecil lucu ternakan warga kampung. Ya, jalan menuju Sintang memang keren, sebentar naik sebentar turun, jalan tanjakan dan tiba-tiba tikungan tajam mengangetkan di depan, tapi yang seru adalah dari balik kaca mobil saya bisa melihat langit yang luas, sangat luas. Bahkan disaat awan mendung, beberapa bintang masih tetap kelihatan. Jauh sekali dari pemandangan Kota Pontianak, yang sudah dipenuhi oleh asap dan beberapa gedung tinggi dan bangunan-bangunan padat. Beberapa teman di mobil tampak sudah mulai tertidur, beberapa lagi bahkan sudah larut dalam candaan dan joke-joke konyol entah tentang apa, dan beberapa lagi memilih minum, menikmati tuak yang dibawa oleh salah satu teman.

Mobil terus melaju, melawan kecepatan angin seiring suara mesin yang terus berderu. Namun tiba-tiba, Ulud menginjak rem mobil kuat-kuat, hingga ban mobil berdecit keras. Semua rombongan kami juga melakukan hal yang sama, tiba-tiba terhenti. Beberapa teman tampak berhamburan keluar mobil, Resnu Pistol For Moms tampak sudah pucat pasi, sementara teman-teman yang lain tampak menangis…

to read the rest of the report, head to Rizka’s blog HERE.